Saturday, July 20, 2013

Menelusuri Keberadaan Kerajaan Aru (2)

MESJID AZIZI, Menjadi bukti sejarah akan kejayaan Kesultanan Langkat.
Masjid dibangun pada masa pemerintahan Sultan Langkat Ke - 7 Abdul
Aziz Djalil Rachmat Syah (1897-1927)
Meski digempur hebat, menurut Zainal Arifin dalam Buku "Subuh Kelabu Bukit Kubu" (2002) yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Langkat, petinggi Aru yang baru itu tidak turut tewas. Ia melarikan diri ke Kota Rentang Hamparan Perak (Deli Serdang-Sumatra Utara), dan mendirikan Kerajaan baru dengan Rajanya yang bernama Dewa Syahdan (1500-1580). Kerajaan inilah yang akhirnya melahirkan Kerajaan Langkat.


 Lahirnya Kesultanan Langkat

Langkat Berasal dari nama sebuah pohon yang menyerupai pohon langsat. Pohon Langkat memiliki buah yang lebih besar dari buah langsat namun lebih kecil dari buah duku. Rasanya disebut-sebut lebih pahit dan kelat. Pohon ini dulunya banyak dijumpai ditepian sungai Langkat, yakni di hilir Sungai Batang Serangan yang mengaliri kota Tanjung Pura. Hanya saja, pohon itu kini sudah punah.

Selain, yang menarik adalah pengakuan dari para tetua langkat, hingga kini, yang yang menganggap bahwa dirinya adalah keturunan marga Perangin-angin. Utamanya yang berasal dari bahorok maupun tanjung pura. Padahal, jika dilihat dari pandangan orang karo semula Ihwal Kerajaan Aru, tentu ini menjadi membingungkan.

Dimasa Kerajaan Langkat, para keturunan pembesar Aru yang masih berada di Besitang, Aru I kembali membangun reruntuhan kerajaan yang sudah luluh lantak. Kawasan Besitang kemudian menjadi kejuruan yang berada dalam lingkup Kerajaan Langkat. Kejuruan ini memiliki kawasan sampai ke Salahaji, desa di Kecamatan Pematang Jaya  (Kabupaten Langkat). Sedangkan Kerajaan Langkat sendiri meluaskan wilayahnya sampai ke Tamiang (Kabupaten Aceh Tamiang-Aceh), dan Seruai (Deli Serdang)

Besitang kemudian dikenal sangat setia pada Kerajaan Langkat. Ia kerap menjadi palang pintu bagi pihak lain yang ingin melakukan penyerbuan kepada Kerajaan Langkat, seperti serangan dari Gayo dan Alas.

Setelah Dewa Syahdan wafat, Kerajaan Langkat Kemudian dipimpin oleh anaknya, Dewa Sakti, yang memerintah dari tahun 1581-1612. Pada tahun 1612, Dewa Sakti yang bergelar Kejuruan Hitam ini dikabarkan hilang (tewas) dalam penyerangan yang kembali dilakukan oleh Kerajaan Aceh.

Lokasi Kesultanan Langkat

Sejumlah referensi menyebutkan bahwa sesudah Dewa Sakti, Kerajaan Langkat di pimpin oleh anaknya yang bernama Sultan Abdullah (1612-1673). Akan Tetapi, dalam sebuah terombo, tidak ditemukan nama Sultan Abdullah sebagai anak Dewa Sakti. Terombo tersebut menampilkan bahwa anak dari Dewa Sakti adalah T. Tan Djafar dan T.Husin. Dan dari Tuan Husin, generasinya adalah T. Djalaluddin yang disebut juga datuk Leka (Terusan), T. Bandarsjah, T.Oelak, dan T. Gaharu.

Sultan Abdullah yang banyak disebut dalam literatur kemudian wafat dan di makamkan di Buluh Cina Hamparan Perak dengan gelar Marhum Guri. Selanjutnya, Tahta Kerajaan Langkat jatuh pada Anak Sultan Abdullah, yakni Raja Kahar (1673-1750). Di zaman Raja Kahar, Pusat Kerajaan Langkat dipindahkan  dari Kota Rentah Hamparan Perak ke Kota Dalam Secanggang. 

Tak hanya itu, Raja Kahar juga melakukan banyak perubahan, baik dalam manajemen negara maupun kepemimpinan. Perubahan itu, menurut Zainal Arifin, membuat sejumlah kalangan lantas menetapkan bahwa ialah pendiri Kerajaan Langkat pada 17 januari 1750.

Raja Kahar memiliki tiga orang anak, yakni Badiulzaman (1750-1814) yang bergelar Sutan Bendahara, Sutan Husin dan Dewi Tahrul. Setelah Raja Kahar Wafat, Badiulzaman menjadi Raja Kerajaan Langkat dan Sutan Husin menjadi raja di Bahorok. Dimasa Sutan Bendahara, wilayah Kerajaan Langkat Meluas. Saat wafat ia di makamkan di Pungai dan diberi gelar Mahrom Kaca.

Sejumlah tahta Kerajaan Langkat diserahkan kepada anak tertua Badiulzaman, Tuah Hitam, yang memerintah sejak 1815-1823. Oleh Tuah Hitam, Istana Kerajaan Langkat dipindahkan ke Jentera Malai yang tak jauh dari Kota Dalam Secanggang. Sementara, adik Tuah Hitam, Raja Wan Jabar menjadi raja di Selesai dan adik ketiga, Syahban menjadi raja di Pungai. Sedangakan sibungsu, Indra Bongsu, tetap tinggal bersama Tuah Hitam.

Dimasa kepemimpinan Tuah Hitam, serangan terhadap Kerajaan Langkat kini bersal dari Belanda dan Kerajaan Siak Sri Indrapura. Pada awal abad ke-19 serangan bertubi-tubi Kerajaan Siak Sri Indrapura membuat Kerajaan Langkat takluk. Pada 1823, dalam catatan Zainal Arifin, pasukan Tuah Hitam bergabung dengan Sultan Panglima Mengedar Alam dari Kerajaan Deli. Tujuannya untuk merebut kembali Kerajaan Langkat dari Kerajaan Siak Sri Indrapura dan Belanda. Tetapi, dalam perjalanan kembali dari Deli, Tuah Hitam tewas.

<< Kembali / Selanjutnya >>

0 comments:

Post a Comment