This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Monday, July 22, 2013

Urutan Nama Gelar Anak Suku Melayu

Pada dasarnya setiap Suku (Etnis) Budaya memiliki nama gelar masing-masing untuk anak-anak mereka. Hal serupa juga terdapat pada Suku (Etnis) Melayu, Khususnya Melayu Langkat. Berikut adalah Nama Gelar  Anak pada Suku (Etnis) Melayu :

Anak Pertama : Si Sulung (Iyung, Ulong)
Anak Ke Dua : Si Ngah 
Anak Ke Tiga : Si Alang
Anak Ke Empat : Si Uteh
Anak Ke Lima : SI Andak
Anak Ke Enam : Si Uda
Anak Ke Tujuh : Si Uncu (Uncu, Busu, Bongsu)
Anak Ke Delapan : Si Ulung Cik (Ulung Kecik)
Anak Ke Sembilan : Si Ngah Cik
Anak Ke Sepuluh : Si Alang Cik
Anak Ke Sebelas : Si Uteh Cik
Anak Ke Dua Belas : Si Andak Cik
Anak Ke Tiga Belas : Si Uda Cik
Anak Ke Empat Belas : Si Cik (Si Kecil atau Si Kecik)

Panggilan untuk anak laki-laki adalah Si Kolok
Sedangkan Panggilan untuk anak perempuan adalah Si Subang



Dikutip dari Buku "Butir Butir Adat Melayu Pesisir Sumatera Timur" yang disusun oleh T.H.M. Lah Husny.

Menelusuri Keberadaan Kerajaan Aru (3)

Pasukan Langkat : perlawanan terhadap Penjajah Belanda
juga dilakukan oleh Kesultanan Langkat Walaupun sebenarnya
ada perpecahan di dalam keluarga kesultanan.
Perjuangan Melawan Penjajah Belanda

Sementara itu Kerajaan Siak Sri Inderapura membuat gerakan untuk menjamin kesetian Kerajaan Langkat, yakni dengan mengambil anak Tuah Hitam, Nobatsyah, dan anak Indra Bongsu, Raja Ahmad. Keduanya dibawa ke Kerajaan Siak Sri Inderapura untuk diindoktrinasi dan dikawinkan dengan putri-putri siak. Nobatsyah kawin dengan Tengku Fatimah dan Raja Ahmad kawint dengan Tengku Kanah.

Setelah itu, keduanya dipulangkan kembali dan menjadi raja ganda di Kerajaan Langkat. Nobatsyah diberi gelar Raja Bendahara  Jepura Bilad Jentera Malai dan Raja Ahmad bergelar Kejuruan Muda Wallah Jepura Bilad Langkat. 
Seperti sudah diperkirakan, kepemimpinan ganda Nobatsyah dan Ahmad menuai pertikaian. Sengketa kekuasaan berujung pada tewasnya Nobatsyah ditangan Raja Ahmad. Selanjutnya, Raja Ahmad menjadi Raja Kerajaan Langkat antara 1824-1870. Dizaman Raja Ahamad, Pusat Kerajaan Langkat dipindahkan ke Gebang, yakni disekitar Air Tawar. Pada 1870, Raja Ahmad tewas karena diracun. Dan anaknya, Tengku Musa atau Tengku Ngah, naik menjadi raja. Dimasa Tengku Musa inilah Kerajaan Langkat banyak mendapat tekanan, baik dari Aceh maupun dari negeri-negeri yang berada di dalam Kerajaan Langkat sendiri. 
Pada pertengahan abad 19, Kerajaan Aceh menggalang kekuatan dari negara-negara di Sumatra Timur untuk menghadang laju gerakan Belanda bersama pembesar-pembesar Siak. Dimasa ini, negara-negara di Sumatra Timur, seperti Kerajaan Deli, Kerajaan Serdang (yang merupakan pecahan dari Kerajaan Deli) dan Kerajaan Asahan menyambut baik ajakan Kerajaan Aceh untuk memerangi Belanda. Bahkan ada yang mengibarkan Bendera Inggris sebagai simbol perlawanan.
Akan tetapi, hanya Kerajaan Langkatlah yang menolak seruan perang sabil itu, meski Kejuruan Bahorok mengobarkan api pada rakyat untuk berperang dengan Belanda. Bahkan Sultan Musa meminta bantuan Belanda-Siak untuk menghantam Kejuruan Stabat kerena bekerja sama dengan Kerajaan Aceh. 
Saat Kerajaan Langkat Kontroversi, Kejuruan Besitang tetap menampilkan kesetiaannya. Dalam catatan Zainal Arifin, ketika Tengku Musa banyak mendapat serangan, termasuk dari Raja Stabat, Bahorok, dan Bingai, Besitang tetap menjadi perisai bagi Kerajaan Langkat. Meski demikian, ada juga sejumlah petinggi Besitang yang mengorganisasikan rakyat untuk menentang Belanda, walau kemudian diredam.
Tengku Musa atau Sultan Musa memiliki tiga orang anak, yakni Tengku Sulong yang menjabat Pangeran Langkat Hulu, Tengku Hamzah yang menjabat Pangeran Langkat Hilir dan Tengku Abdul Aziz. Dalam tradisi kerajaan, anak tertua adalah pewaris tahta. Namun Tengku Musa tidak melakukan itu.
Pada 1896, ia memberikan tahtanya pada si Bungsu, Tengku Abdul Aziz, meski belum dilantik karena alasan usia yang terlalu muda. Penyebab tindakan Sultan Musa tak lain karena ia terikat janji dengan istrinya, Tengku Maslurah, yang merupakan Permaisuru Raja Bingai.
Perkawinan Musa dan Maslurah memang perkawinan politik. Setelah Langkat menggepur Bingai, maka sang Permaisuri diambil oleh sang pemenang, sebagaimana yang terjadi pada zaman raja-raja. Akan tetapi, Maslurah tetap meminta syarat, yakni anak dari perkawinannya dengan Sultan Musa kelak haruslah menjadi Raja Langkat.
Tindakan Sultan Musa melahirkan protes dari anak-anaknya yang lain, terutama Tengku Hamzah. Sempat terjadi upaya kup, namun tak berhasil. Tengku Hamzah lalu memisahkan diri dari Kerajaan Langkat, Darul Aman, dan membangun istananya sendiri di Kota Pati. Kareana posisinya yang berada di tanjung atau persimpangan, maka Tengku Hamzah juga dikenal sebagai Pangeran Tanjung. Dan tak jauh dari Istana, ada sebuah pura atau pintu gerbang tempat para anak raja mandi di sungai. Alahasil, nama kawasan itu disebut Tanjung Pura.
Tengku Hamzah kemudian memiliki seorang putra bernama Tengku Adil. Tengku Adil dikenal pemberani dan sangat membenci belanda. Beberapa kali ia terlibat perkelahian dengan orang-orang dari Eropa itu. Dan dari Pangeran Adil lah lahir seorang anak bernama Tengku Amir Hamzah, seorang penyair besar yang kelak turut menggelorakan gerakan anti kolonialisme melalui gagasan indonesia.
Pada 1986, Tengku Abdul Aziz pun dilantik menjadi Sultan Langkat. Sebelum dilantik ditemukan pula sumber minyak di Telaga Said Securai pada 1869. minyak ini lantas dieksplorasi pada 1883 melalui kerja sama dengan Maskapai Perminyakan Belanda ketika itu, yang juga menjadi embrio munculnya Pertamina kelak, yakni De Koninklijke (De Koninklijke Nederlandsche Maatschappij tot Exloitatie van Petroleum bronnen in Nederlandsche-Indie). Minyak di Pangkalan Berandan ini, yang ditambah dengan perkebunan, kian menambah Langkat sebagai Negar paling kaya di Sumatra Timur.

<< Kembali / Selanjutnya >>

Saturday, July 20, 2013

Menelusuri Keberadaan Kerajaan Aru (2)

MESJID AZIZI, Menjadi bukti sejarah akan kejayaan Kesultanan Langkat.
Masjid dibangun pada masa pemerintahan Sultan Langkat Ke - 7 Abdul
Aziz Djalil Rachmat Syah (1897-1927)
Meski digempur hebat, menurut Zainal Arifin dalam Buku "Subuh Kelabu Bukit Kubu" (2002) yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Langkat, petinggi Aru yang baru itu tidak turut tewas. Ia melarikan diri ke Kota Rentang Hamparan Perak (Deli Serdang-Sumatra Utara), dan mendirikan Kerajaan baru dengan Rajanya yang bernama Dewa Syahdan (1500-1580). Kerajaan inilah yang akhirnya melahirkan Kerajaan Langkat.


 Lahirnya Kesultanan Langkat

Langkat Berasal dari nama sebuah pohon yang menyerupai pohon langsat. Pohon Langkat memiliki buah yang lebih besar dari buah langsat namun lebih kecil dari buah duku. Rasanya disebut-sebut lebih pahit dan kelat. Pohon ini dulunya banyak dijumpai ditepian sungai Langkat, yakni di hilir Sungai Batang Serangan yang mengaliri kota Tanjung Pura. Hanya saja, pohon itu kini sudah punah.

Selain, yang menarik adalah pengakuan dari para tetua langkat, hingga kini, yang yang menganggap bahwa dirinya adalah keturunan marga Perangin-angin. Utamanya yang berasal dari bahorok maupun tanjung pura. Padahal, jika dilihat dari pandangan orang karo semula Ihwal Kerajaan Aru, tentu ini menjadi membingungkan.

Dimasa Kerajaan Langkat, para keturunan pembesar Aru yang masih berada di Besitang, Aru I kembali membangun reruntuhan kerajaan yang sudah luluh lantak. Kawasan Besitang kemudian menjadi kejuruan yang berada dalam lingkup Kerajaan Langkat. Kejuruan ini memiliki kawasan sampai ke Salahaji, desa di Kecamatan Pematang Jaya  (Kabupaten Langkat). Sedangkan Kerajaan Langkat sendiri meluaskan wilayahnya sampai ke Tamiang (Kabupaten Aceh Tamiang-Aceh), dan Seruai (Deli Serdang)

Besitang kemudian dikenal sangat setia pada Kerajaan Langkat. Ia kerap menjadi palang pintu bagi pihak lain yang ingin melakukan penyerbuan kepada Kerajaan Langkat, seperti serangan dari Gayo dan Alas.

Setelah Dewa Syahdan wafat, Kerajaan Langkat Kemudian dipimpin oleh anaknya, Dewa Sakti, yang memerintah dari tahun 1581-1612. Pada tahun 1612, Dewa Sakti yang bergelar Kejuruan Hitam ini dikabarkan hilang (tewas) dalam penyerangan yang kembali dilakukan oleh Kerajaan Aceh.

Lokasi Kesultanan Langkat

Sejumlah referensi menyebutkan bahwa sesudah Dewa Sakti, Kerajaan Langkat di pimpin oleh anaknya yang bernama Sultan Abdullah (1612-1673). Akan Tetapi, dalam sebuah terombo, tidak ditemukan nama Sultan Abdullah sebagai anak Dewa Sakti. Terombo tersebut menampilkan bahwa anak dari Dewa Sakti adalah T. Tan Djafar dan T.Husin. Dan dari Tuan Husin, generasinya adalah T. Djalaluddin yang disebut juga datuk Leka (Terusan), T. Bandarsjah, T.Oelak, dan T. Gaharu.

Sultan Abdullah yang banyak disebut dalam literatur kemudian wafat dan di makamkan di Buluh Cina Hamparan Perak dengan gelar Marhum Guri. Selanjutnya, Tahta Kerajaan Langkat jatuh pada Anak Sultan Abdullah, yakni Raja Kahar (1673-1750). Di zaman Raja Kahar, Pusat Kerajaan Langkat dipindahkan  dari Kota Rentah Hamparan Perak ke Kota Dalam Secanggang. 

Tak hanya itu, Raja Kahar juga melakukan banyak perubahan, baik dalam manajemen negara maupun kepemimpinan. Perubahan itu, menurut Zainal Arifin, membuat sejumlah kalangan lantas menetapkan bahwa ialah pendiri Kerajaan Langkat pada 17 januari 1750.

Raja Kahar memiliki tiga orang anak, yakni Badiulzaman (1750-1814) yang bergelar Sutan Bendahara, Sutan Husin dan Dewi Tahrul. Setelah Raja Kahar Wafat, Badiulzaman menjadi Raja Kerajaan Langkat dan Sutan Husin menjadi raja di Bahorok. Dimasa Sutan Bendahara, wilayah Kerajaan Langkat Meluas. Saat wafat ia di makamkan di Pungai dan diberi gelar Mahrom Kaca.

Sejumlah tahta Kerajaan Langkat diserahkan kepada anak tertua Badiulzaman, Tuah Hitam, yang memerintah sejak 1815-1823. Oleh Tuah Hitam, Istana Kerajaan Langkat dipindahkan ke Jentera Malai yang tak jauh dari Kota Dalam Secanggang. Sementara, adik Tuah Hitam, Raja Wan Jabar menjadi raja di Selesai dan adik ketiga, Syahban menjadi raja di Pungai. Sedangakan sibungsu, Indra Bongsu, tetap tinggal bersama Tuah Hitam.

Dimasa kepemimpinan Tuah Hitam, serangan terhadap Kerajaan Langkat kini bersal dari Belanda dan Kerajaan Siak Sri Indrapura. Pada awal abad ke-19 serangan bertubi-tubi Kerajaan Siak Sri Indrapura membuat Kerajaan Langkat takluk. Pada 1823, dalam catatan Zainal Arifin, pasukan Tuah Hitam bergabung dengan Sultan Panglima Mengedar Alam dari Kerajaan Deli. Tujuannya untuk merebut kembali Kerajaan Langkat dari Kerajaan Siak Sri Indrapura dan Belanda. Tetapi, dalam perjalanan kembali dari Deli, Tuah Hitam tewas.

<< Kembali / Selanjutnya >>

Friday, July 19, 2013

Foto Tempoe Doeloe

Masjid Aziz, dibangun pada masa pemerintahan Sultan Langkat Ke - 7 Abdul
Aziz Djalil Rachmat Syah (1897-1927)




Tanjung Pura Masa Kerajaan Langkat-Banjir Tahun 1821




Istana Kerajaan Langkat-Banjir Tahun 1921 




Istana Darusalam Kesultanan Langkat



Rakyat Langkat Melayat Raja Pada Saat Sultan Wafat 




Kolam Kerajaan Deli
 



Istana Maimun Medan

Thursday, July 18, 2013

Rumah Tradisional Melayu



Rumah-rumah tradisional Melayu telah diwarisi semenjak beratus tahun yang lalu. Gaya dan bentuk bangunannya dipengaruhi oleh cara hidup, ekonomi, alam persekitaran dan iklim. 

Iklim adalah perkara yang penting yang mempengaruhi bentuk senibina. Negara kita mempunyai hawa yang panas dan hujan yang selalu turun dengan lebat. Rumah-rumah dan bangunan dibina dengan berpanggung atau bertiang. Rumah dibina demikian keranamemberi laluan atau pengedaran udara. 

Rumah yang bertiang dapat mengelak daripada ditenggelami air apabila berlaku banjir. Bentuk bumbung yang curam yang dipanggil "lipat kajang" dapat memudahkan curahan air hujan. Lantai dan dinding rumah yang diperbuat daripada anyaman peluhan adalah untuk memudahkan pengedaran udara dan untuk mengurangkam rasa bahang panas. 
Rumah yang awal yang digunakan oleh Melayu dipanggil "dangau" atau "teratak". Bentuk rumah tradisi ini adalah ringkas. Pada masa dahulu, tiang rumah adalah bulat dan diperbuat daripada anak-anak pokok kayu. seluruh rumah diperbuat daripada kayu dan bumbungnya daripada atap nipah atau rumbia. 

Mendirikan rumah dilakukan dengan gotong royong, dengan terlebih dahulu melihat hari baik, dengan cara ‘ketiko/ketike’- ‘menengok langkah’. Setelah selesai dan ingin dihuni, diadakan kenduri dan tepung tawar. 




Wednesday, July 17, 2013

Wisata Alam Bukit Lawang



Hutan hujan tropis yang asri menjadi daya tarik utama Bukit Lawang. Diminati turis asing karena bisa melihat langsung Orang Utan di habitan aslinya.

Bukit Lawang.
Gemuruh air Sungai Bahorok seolah menyambut wisatawan. Airnya jernih dan deras. Tak heran sungai yang terletak di Taman Nasional Gunung Leuser, Bukit Lawang, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara ini menjadi favorit wisatawan lokal. Dari atas jembatan gantung, yang menghubungkan dua sisi sungai Bahorok, terlihat anak-anak maupun dewasa bersuka ria menceburkan diri di antara bebatuan sungai.
Dari kota Medan, Sungai Bahorok bisa dijangkau dengan kendaraan roda empat selama 3,5 hingga 4 jam perjalanan. Tidak hanya airnya yang jernih dan dingin, di ekowisata ini pengunjung juga dapat menikmati pemandangan hutan hujan tropis terbaik di dunia. Panorama Bukit Lawang menyediakan medan jelajah yang mengasyikkan. Termasuk bagi pengunjung yang ingin menguji adrenalin di Sungai Bahorok.

Rafting atau arung jeram Di Bukit Lawang.
Menggunakan empat buah ban dalam bekas yang diikat dengan tali, wisatawan bisa mencoba rafting atau bermain arung jeram mengikuti aliran sungai yang deras. Modal untuk menikmati aktifitas tube rafting ini hanyalah keberanian. Karena di tempat ini tak ada pelampung sama sekali. Pengunjung yang tak bisa berenang, harus siap-siap terbawa arus.
Lelah arung jeram, pengunjung bisa beralih menikmati wisata gua. Di sini ada tiga gua yang menarik, yakni Gua Kelelawar (Bat Cave), Gua Wallet (Swallow Cave) dan Gua Kapal (Ship Cave). Dari tempat penginapan ke Bat Cave misalnya, wisatawan harus berjalan sekitar 2 km. Gua kalong punya kedalaman 300 meter. Untuk masuk ke dalam, harus didampingi guide. Jangan lupa membawa senter, karena gua ini sangat gelap. Seperti namanya, gua ini dipenuhi kelelawar. Di dalam gua kita dapat mendengar nyanyian kelelawar, suara tetesan air, dan yang pasti bau khas makhluk malam itu. Dengan kondisi jalan berbatu, gelap dan licin, perlu waktu sekitar satu jam untuk pulang-pergi.

Bungalow atau penginapan di tengah hutan tak jauh dari Sungai Bahorok.
Di Bukit Lawang terdapat banyak bungalow atau penginapan. Bungalow- bungalow yang asri itu terletak di tengah hutan, tak jauh dari Sungai Bahorok. Kala sore menjelang, pengunjung yang tidak menginap di bungalow, memilih berbelanja oleholeh. Banyak galery art di sepanjang tepi Sungai Bahorok. Mereka menjual aneka kaos bergambar karikatur lucu, termasuk gambar Orang Utan Wisatawan asing paling senang membeli patung kayu bermotif Orang Utan. Karena itu, patung ini menjadi primadona. Selain membeli, di galeri-galeri itu wisatawan juga bisa mengikuti kursus singkat melukis atau memahat, seni yang dikuasai warga Bukit Lawang sejak dulu.
Berkunjung ke Bukit Lawang lebih dari sekadar bermain air, masuk gua atau membeli buah tangan. Tujuan utama para pelancong umumnya ingin menyaksikan langsung kehidupan Orang Utan. Kendati pusat rehabilitasi Orang Utan sekarang telah ditutup, pengunjung masih bisa memberi makan pada hewan berbulu lebat itu. Jadwal tetap memberi makan satwa primata langka itu pada pukul 08.00 pagi dan 16.00 sore waktu setempat. Untuk menyaksikan langsung proses tersebut, wisatawan rata-rata menginap satu hingga tiga hari di Bukit Lawang. Pengunjung perlu menginap karena tak bisa seenaknya berangkat sendiri ke lokasi feeding. Mereka harus ditemani seorang pemandu agar tak kesasar.
Agar bisa bertemu hewan yang hobi menggelantung di dahan tersebut, pengunjung harus berjalan kaki sekitar setengah jam. Sambil menyusuri hulu sungai, pengunjung dapat menikmati pemandangan hutan hujan tropis yang lebat, kicau burung yang bersahutan dan bunyi ranting patah terinjak kaki pengunjung. Usai jalan kaki, perjalanan dilanjutkan dengan menyeberang sungai selebar 10 meter, menggunakan perahu kayu yang diikat tali baja melintang di atas badan sungai. Penduduk setempat menyebut perahu berkapasitas lima orang itu getek. Di seberang sungai, wisatawan disambut gapura pintu masuk Taman Nasional Gunung Leuser.

Dua anak orang utan Sumatra (pongo abelii) berada Lawang, Kabupaten Langkat, Sumut, Minggu (29/4).
Taman Nasional Gunung Leuser termasuk salah satu kawasan pelestarian alam dan warisan dunia. Ada banyak jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya di hutan ini. Gajah Sumatera atau Harimau Sumatera katanya masih terpelihara di hutan lebat seluas 1.094.692 hektar ini. Kendati kaya ekosistem, di dunia, Taman Nasional Gunung Leuser lebih dikenal sebagai Pusat Rehabilitasi Orang Utan. Sejarah ini terukir sejak 1973, ketika lembaga swadaya masyarakat World Wild Fund (WWF) dan Frankfurd Zoological Society mendirikan Pusat Rehabilitasi Orang Utan di Bukit Lawang. Tujuannya, untuk melestarikan orang utan yang semakin berkurang akibat perburuan, perdagangan, deforestasi dan perluasan lahan perkebunan sawit ataupun karet.
Belakangan proses rehabilitasi tak lagi jalan. Selain akibat pembalakan liar (illegal loging), juga karena banjir bandang yang menerjang Bukit Lawang pada 2 November 2003. Kini pemerintah bersama LSM perlahanlahan membangun kembali hutan Gunung Leuser sebagai habitat terbaik primata besar bernama Latin Pongo Abelii ini. Untuk mencapai tempat pemberian makan Orang Utan, wisatawan harus menempuh perjalanan tracking cukup berat dari pintu masuk Taman Nasional Gunung Leuser. Tapi, walaupun sudah berkeringat karena menyusuri jalanan menanjak sekitar 500 meter, rasa lelah akan sirna seketika begitu melihat sosok makhluk berwarna oranye kecoklatan itu bergelantungan di pepohonan.
Di lokasi feeding time, pawang yang bertugas memberi makan berusaha menarik perhatian Orang Utan dengan memukul-mukul papan menggunakan sebilah kayu. Orang Utan, yang memiliki tinggi sekitar 1,25 hingga 1,5 meter, akan muncul satu persatu. Dengan hati-hati, primata yang sudah hampir punah itu mulai menghampiri pawang. Sang pawang menenteng ember besar berisi susu serta beberapa sisir pisang. Tak perlu menunggu komando, primata besar itu langsung mengambil satu sisir pisang dan kembali lenyap di balik rimbun batang bambu.
Pengunjung tak boleh terlalu dekat. Mereka harus menjaga jarak minimal 7 hingga 10 meter dari Orang Utan. Tujuannya, untuk mencegah penularan penyakit dan melindungi pengunjung dari kemungkinan serangan agresif kera besar itu.

Sumber : http://www.prioritasnews.com 

Sejarah Bukit Lawang


Arti kata Bukit Lawang secara harfiah berarti "pintu ke bukit"Bukit Lawang adalah sebuah desa kecil yang terletak 90 kilometer barat laut Medan, ibukota Sumatera Utara, Indonesia. Bukit Lawang yang paling terkenal karena menjadi salah satu tempat terakhir di dunia di mana orang dapat melihat orang hutan di alam liar. Bukit Lawang terletak di sisi timur Taman Nasional Gunung Leuser.Pada tahun 1973 sebuah organisasi Swiss mendirikan pusat rehabilitasi orangutan di Bukit Lawang. Tujuan pusat ini adalah untuk merehabilitasi orang hutan yang dilepaskan dari penangkaran. Para penjaga di pusat mengajarkan orang hutan semua keterampilan yang diperlukan untuk bertahan hidup di alam liar. Setelah periode intens karantina, penyesuaian kembali ke habitat alami dan reintegrasi dalam populasi (semi-) liar, orangutan dilepaskan kembali ke hutan. Semua orangutan dirilis masih dipantau oleh jagawana dan mereka masih memberi mereka makanan tambahan pada platform makan sampai mereka menjadi sepenuhnya mandiri.Pada tahun-tahun setelah kedatangan pusat rehabilitasi lebih banyak wisatawan yang datang ke Bukit Lawang dan itu menjadi salah satu tujuan paling populer di Sumatera. Sebuah banjir bandang melanda Bukit Lawang pada tanggal 2 November 2003. Dijelaskan oleh saksi sebagai gelombang pasang surut, dengan tinggi air adalah sekitar 20 meter, yang menyebabkan perbukitan menjadi longsor, menghapus segala sesuatu di jalan. Bencana, yang merupakan hasil dari pembalakan liar, menghancurkan tempat wisata lokal dan memiliki dampak bagi industri pariwisata lokal. Sekitar 400 rumah, 3 masjid, 8 jembatan, 280 kios dan warung makan, 35 hotel dan guest house dihancurkan oleh banjir, dan 239 orang (5 dari mereka wisatawan) tewas dan sekitar 1.400 penduduk setempat kehilangan rumah. stelah delapan bulan  mereka melaukan pembangunan kembali, Bukit Lawang itu kembali dibuka lagi pada bulan Juli 2004. Banyak penduduk desa menjadi trauma, kehilangan keluarga, teman dan rumah mereka. Banyak Orang-orang yang tinggal di Bukit Lawang menajdi pengangguran dan tunawisma. Ini telah menjadi jalan panjang untuk pemulihan dan tugas yang sangat sulit untuk membangun kembali kota dengan hanya bantuan keuangan yang terbatas dari pemerintah. Namun orang-orang di Bukit Lawang yang menjadi korban dengan membangun kembali desa yang telah hancur dan memulai kambali bisnis merek.Terutama generasi muda, agar dapat membangun kembali desa secara berkelanjutan dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga pelestarian eko sistem ​​yang ada ditempat tinggal mereka, Mereka dapat memanfaatkan semua dukungan, mereka juga bisa mendapatkan pendapatan pariwisata yang akanmembantu mereka dalam mewujudkan ide-ide mereka untuk masa depan yang cerah bagi Bukit Lawang.

Sejarah Singkat Mesjid Azizi




Mesjid Azizi adalah sebuah bangunan bersejarah peninggalan kesultanan Langkat. Mesjid yang berjarak sekitar 20 km dari ibu kota kabupataen langkat, atau 100 km dari kota medan (ibu kota provinsi sumatra utara) ini, sudah beumur satu abad lebih.  Mejid ini berada persis ditepi jalan raya lintas sumatra utara yang menghubungkan provinsi sumatra utara dengan provinsi nanggro aceh darussalam.
Mesjid Azizi yang berdiri diatas tanah seluas 18.000 meter persegi ini dibangun pada masa kesultanan langkat dibawah kepemimpinan sultan langkaat yang ke-7, yaitu Sultan Abdul Aziz Djalil Rachmat Syah(1887 - 1927).

Mesjid ini kemudian dinamakan mejiid Azizi, meujuk pada nama sultan yang menggagas berdirinya mesjid tersebut. untuk merancang desain bangunan, para pejabat kesulatanan langkat mendatangkan seorang arsitek handal berkebangsaan jerman (nama tidak tercatat) dibantu oleh tenaga kerja yang berasal dari masyarakt langkat dan masyarakat tionghoa.

Sementaara untuk kebutuhan bahan bangunan, pihak kesultanan sengaja mendatangkan langsung dari penang malaysia dan singapura yang memiliki kualitas bagus. proses pembangunan mesjid berlangsung selama 18 bulan dengan total biaya yang dikeluarkan saat itu sekitar 200.000 ringgit. pada tanggal 12 rabiulawal 1320 H / 13 juni 1902 M yang juga bertepatan dengan kelahiran ( maulid ) Nabi Muhammad SAW, Mesjid Azizi diresmikan oleh sultan abdul aziz djalil rachmat syah.

Dalam merancang bangunan mesjid,sultan abdul aziz djalil rachmat syah berupaya menanamkan konsep pembangunan dengan memadukan lima unsur kekuatan dalam masyarakat sebagai filosofi masyarakat melayu, yaitu kekuatan pemimpin ( umara ), ulama, cerdik pandai ( zuamah ), orang kaya ( aghnia ), dan kekuatan doa orang miskin ( fukura ). Lima unsur ini menjadi kekuatan utama yang menopang berdirinya mesjid, sehinnga bangunan mesjid sehingga bangunan mesjid lebih bagus dari bangunan istana sultan langkat. dengan demikian, bangunan yang didirikan tersebut kokoh dan tahan dari segala cuaca. hal ini terlahir dari kearifan sang pemimpin yang berupaya untuk melibatkan semua komponen masyarakat dalam mebangun mesjid sebagai fasilitas untuk publik.

Pada bagian interior mesjid, komposisi arsitektur lebih banyak didominasi oleh corak arsitektur melayu. tiang - tiang yang berdiri kokoh didalam mesjid ditata mengikuti pola bangunan melayu, seperti pada istana Maimoon dikota medan. Mimbar tempat khatib berkutbah yang terletak pada suatu sudut didalam mesjid dibangun dengan konstuksi cukup tinngi menyerupai singga sana raja. Mimbar yang didesain seperti ini bertujuan untuk memberikan keleluasaan bagi khatib serta memberikan kemudahan bagi jamaah untuk memperhatikan jalanya khutbah.

Bagi wisatawan yang menggunakan kendaraan pribadi, seperti mobil dan sepeda motor terdapat arena parkir yang cukup nyaman. Bagi pengunjung muslim yang ingin meninaikan sholat, dapat memanfaatkan tempat wudhu yang tersediia disamping mesjid untuk bersuci. Begitu juga bagi para tamu yang lupa membawa perlengkapan shalat, didalam mesjid juga terdapat beberapa mukena dan peralatan shalat lainya yang bisa dipakai. (int)

Menelusuri Sejarah Keberadaan Kerajaan Aru


Perjumpaan Budaya Aceh, Karo dan Melayu

Benteng Putri Hijau merupkan peninggalan dari Kerajaan Aru yang ditemukan di Kecamatan Namorambe, Kabupaten Deli Serdang Sumatra utara. Ia mengalami kerusakan akibat adanya pembangunan perumahan yang dilakukan oleh pengembang swasta. Meski berada di Deli Tua, kerajaan ini semula berdiri di Besitang, yang kini berada di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, dan mulai disebut namanya sekitar abad 13.
Saat ini belum ada mufakat mengenai siapa Kerajaan Aru itu. Masyarakat Karo misalnya, menyebutkan bahwa aru merupakan Haru yang berasal dari kata “Karo”. Karena itu, masyarakat Aru merupakan masyarakat karo yang didirikan oleh Klan Kembaren. Dalam “Pustaka Kembaren” (1972), marga kembaren disebut berasal dari Pagaruyung di Tanah Minangkabau.
Orang Karo ini tidak mau disamakan dengan marga karo yang sekarang, yang disebut sebagai karo-karo (bukan asli). Orang Karo-Karo, seperti Tarigan, Sembiring, Perangin-angin, Sitepu dan Ginting, baru turun ke Deli pada awal abad ke 17.
Sejumlah sumber lain juga menyebutkan bahwa kerajaan Aru merupakan Kerajaan Melayu yang amat besar pada zamannya. Akan tetapi, Daniel Perret dalam buku “Kolonialisme dan Etnisitas” (2010), yang merujuk pada R. Djajadiningrat dalam buku “Atjehsch-Nederlandsch Woordenboek” (1934), mengatakan bahwa dalam bahasa Aceh “Haro” atau “Karu” berarti suasana bergejolak dan rusuh disebuah wilayah.
Betapapun identitas kerajaan Aru belum terkuak penuh, Tengku Luckman Sinar dalam buku “Sari Sejarah Serdang” (Edisi Pertama, 1971) mencatat bahwa nama Aru muncul pertma kali pada 1282 dalam catatan Tionghoa pada masa Kublai Khan.
Menurut Perret Nama Aru kembali muncul pada 1413 dalam catatan Tionghoa dengan nama "A-lu” sebagai penghasil kemenyan. Pada 1436, sumber Tionghoa lain menyebutkan bahwa “A-lu” memiliki beras, kamper, rempah-rempah, dan pedagang-pedagang Tionghoa sudah berdagang emas, perak, dan benda-benda dari besi, keramik dan tembaga di Tan-Chiang (Tamiang).
Secara wilayah, kekuasaan Kerajaan Aru memang cukup luas. Ia terbentang dari Sungai Rokan, Riau kini. Jelasnya, ia meliputi sepanjang pesisir Sumatra Timur. Posisinya yang menghadap ke Selat Malaka membuat kerajaan ini mamainkan peranan penting dalam perniagaan dan aktivitas maritim. Selat Malaka merupakan jalur perdagangan laut yang amat aktif dalam priode yang begitu amat panjang, yakni mulai abad permulaan masehi hingga abad 19.
Bahkan Perret menyebutkan bahwa dalam hal tempat perdagangan, Aru merupakan negara yang setara dengan Kerajaan Malaka semasa dipimpin oleh Sultan Mansyur Shah yang berkuasa dari 1456 sampai 1477. Di awal abad 15, Aru dan China juga disebut pernah saling melakukan kunjungan. Posisinya yang strategis membuat Aru menjadi pentas politik perdagangan bagi negara-negara lain.
Kerajaan Aru dikatakan kerap berkonflik dengan kerajaan Pasai (Aceh). Pada awal abad 16, Aru menyerbu pasai dan membantai banyak sekali orang disana. Namun, serangan itu dibalas oleh Pasai. Melalui serangan berkali-kali, Aceh berhasil menjebol pertahanan Kerajaan Aru hingga rontok. Para petinggi Kerajaan Aru lalu melarikan diri ke Deli Tua dan memindahkan pusat kekuasaan baru di sana. Akan tetapi, meski sudah berpindah tempat, Kerajaan Aceh masih terus merangsek Kerajaan Aru II itu. Motif penyerangan Kerajaan Aceh kali ini diketahui karena keinginan rajanya untuk menikahi Ratu Aru II, yang dikenal sebagai Putri Hijau.
Dari beberapa sumber, tertulis bahwa Raja Kerajaan Aceh mengirimkan surat yang berisi tiga hal kepada Putri Hijau. Pertama, meminta Putri Hijau bersedia menjadi permaisuri Raja Aceh. Kedua, Aceh adalah Serambi Mekkah dan Aru adalah Serambi Aceh. Karena itu, Aru diminta tunduk kepada Aceh. Dan ketiga, Aceh akan menyebarkan agama Islam di Aru.
Dalam catatan Karo dari Biak Ersada Ginting yang banyak dikutip oleh berbagai sumber, Putri Hijau yang saat itu bertuhankan Dibata Si Mila Jadi – yang bermakna Tuhan yang maha pertama, paling akhir dan hanya dia yang tetap hidup – menolak mentah-mentah lamaran Raja Aceh. Akan tetapi berbeda dengan Biak Ersada Ginting, Perret mengatakan bahwa, sembari merujuk kepada penulis Prancis E. Mendes Pinto dalam buku “Chez Cotinet et Roger” (1964), masyarakat Aru dan Rajanya adalah Muslim. Dan dalam kutipan dari “Hikayat Melayu” dan “Hikayat Raja-Raja Pasai”, Kerajaan Aru atau Haru disebut sudah menganut Islam pada pertengahan abad 13; terlebih dahulu ketimbang Aceh dan Malaka.
Merasa terhina, penolakan dari Putri Hijau kemudian berbuntut pada pecahnya kembali perang besar antara Kerajaan Aceh dan Aru II. Masih diabad 16 itu, setelah berkali-kali melakukan serangan, Kerajaan Aceh yang disebut-sebut yang didukung oleh sebagian pasukan dari turki kembali berhasil mengalahkan Kerajaan Aru II. Kerajaan Aru II tidak hanya roboh, tetapi hancur dan musnah. Dari puing Kerajaan Aru II inilah berdiri kerajaan Deli. Panglima Gocah Pahlawan (asal India) dari Kerajaan Aceh kelak menjadi Sultan Kerajaan Deli pertama yang berkuasa pada 1632-1653.

Kerusakan benteng Putri Hijau di Sumatra Utara belakangan ini membawa kembali ingatan tentang bagai mana Sepak terjang Kerajaan Aru di masa Islam. Tidak Hanya ingatan, bahwa kerajaan ini membawa perjumpaan kisah antara Karo, Melayu dan Aceh, tetapi juga mengenai siapa ahli waris kerajaan besar itu.

Berikutnya >>