This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Monday, July 22, 2013

Menelusuri Keberadaan Kerajaan Aru (3)

Pasukan Langkat : perlawanan terhadap Penjajah Belanda
juga dilakukan oleh Kesultanan Langkat Walaupun sebenarnya
ada perpecahan di dalam keluarga kesultanan.
Perjuangan Melawan Penjajah Belanda

Sementara itu Kerajaan Siak Sri Inderapura membuat gerakan untuk menjamin kesetian Kerajaan Langkat, yakni dengan mengambil anak Tuah Hitam, Nobatsyah, dan anak Indra Bongsu, Raja Ahmad. Keduanya dibawa ke Kerajaan Siak Sri Inderapura untuk diindoktrinasi dan dikawinkan dengan putri-putri siak. Nobatsyah kawin dengan Tengku Fatimah dan Raja Ahmad kawint dengan Tengku Kanah.

Setelah itu, keduanya dipulangkan kembali dan menjadi raja ganda di Kerajaan Langkat. Nobatsyah diberi gelar Raja Bendahara  Jepura Bilad Jentera Malai dan Raja Ahmad bergelar Kejuruan Muda Wallah Jepura Bilad Langkat. 
Seperti sudah diperkirakan, kepemimpinan ganda Nobatsyah dan Ahmad menuai pertikaian. Sengketa kekuasaan berujung pada tewasnya Nobatsyah ditangan Raja Ahmad. Selanjutnya, Raja Ahmad menjadi Raja Kerajaan Langkat antara 1824-1870. Dizaman Raja Ahamad, Pusat Kerajaan Langkat dipindahkan ke Gebang, yakni disekitar Air Tawar. Pada 1870, Raja Ahmad tewas karena diracun. Dan anaknya, Tengku Musa atau Tengku Ngah, naik menjadi raja. Dimasa Tengku Musa inilah Kerajaan Langkat banyak mendapat tekanan, baik dari Aceh maupun dari negeri-negeri yang berada di dalam Kerajaan Langkat sendiri. 
Pada pertengahan abad 19, Kerajaan Aceh menggalang kekuatan dari negara-negara di Sumatra Timur untuk menghadang laju gerakan Belanda bersama pembesar-pembesar Siak. Dimasa ini, negara-negara di Sumatra Timur, seperti Kerajaan Deli, Kerajaan Serdang (yang merupakan pecahan dari Kerajaan Deli) dan Kerajaan Asahan menyambut baik ajakan Kerajaan Aceh untuk memerangi Belanda. Bahkan ada yang mengibarkan Bendera Inggris sebagai simbol perlawanan.
Akan tetapi, hanya Kerajaan Langkatlah yang menolak seruan perang sabil itu, meski Kejuruan Bahorok mengobarkan api pada rakyat untuk berperang dengan Belanda. Bahkan Sultan Musa meminta bantuan Belanda-Siak untuk menghantam Kejuruan Stabat kerena bekerja sama dengan Kerajaan Aceh. 
Saat Kerajaan Langkat Kontroversi, Kejuruan Besitang tetap menampilkan kesetiaannya. Dalam catatan Zainal Arifin, ketika Tengku Musa banyak mendapat serangan, termasuk dari Raja Stabat, Bahorok, dan Bingai, Besitang tetap menjadi perisai bagi Kerajaan Langkat. Meski demikian, ada juga sejumlah petinggi Besitang yang mengorganisasikan rakyat untuk menentang Belanda, walau kemudian diredam.
Tengku Musa atau Sultan Musa memiliki tiga orang anak, yakni Tengku Sulong yang menjabat Pangeran Langkat Hulu, Tengku Hamzah yang menjabat Pangeran Langkat Hilir dan Tengku Abdul Aziz. Dalam tradisi kerajaan, anak tertua adalah pewaris tahta. Namun Tengku Musa tidak melakukan itu.
Pada 1896, ia memberikan tahtanya pada si Bungsu, Tengku Abdul Aziz, meski belum dilantik karena alasan usia yang terlalu muda. Penyebab tindakan Sultan Musa tak lain karena ia terikat janji dengan istrinya, Tengku Maslurah, yang merupakan Permaisuru Raja Bingai.
Perkawinan Musa dan Maslurah memang perkawinan politik. Setelah Langkat menggepur Bingai, maka sang Permaisuri diambil oleh sang pemenang, sebagaimana yang terjadi pada zaman raja-raja. Akan tetapi, Maslurah tetap meminta syarat, yakni anak dari perkawinannya dengan Sultan Musa kelak haruslah menjadi Raja Langkat.
Tindakan Sultan Musa melahirkan protes dari anak-anaknya yang lain, terutama Tengku Hamzah. Sempat terjadi upaya kup, namun tak berhasil. Tengku Hamzah lalu memisahkan diri dari Kerajaan Langkat, Darul Aman, dan membangun istananya sendiri di Kota Pati. Kareana posisinya yang berada di tanjung atau persimpangan, maka Tengku Hamzah juga dikenal sebagai Pangeran Tanjung. Dan tak jauh dari Istana, ada sebuah pura atau pintu gerbang tempat para anak raja mandi di sungai. Alahasil, nama kawasan itu disebut Tanjung Pura.
Tengku Hamzah kemudian memiliki seorang putra bernama Tengku Adil. Tengku Adil dikenal pemberani dan sangat membenci belanda. Beberapa kali ia terlibat perkelahian dengan orang-orang dari Eropa itu. Dan dari Pangeran Adil lah lahir seorang anak bernama Tengku Amir Hamzah, seorang penyair besar yang kelak turut menggelorakan gerakan anti kolonialisme melalui gagasan indonesia.
Pada 1986, Tengku Abdul Aziz pun dilantik menjadi Sultan Langkat. Sebelum dilantik ditemukan pula sumber minyak di Telaga Said Securai pada 1869. minyak ini lantas dieksplorasi pada 1883 melalui kerja sama dengan Maskapai Perminyakan Belanda ketika itu, yang juga menjadi embrio munculnya Pertamina kelak, yakni De Koninklijke (De Koninklijke Nederlandsche Maatschappij tot Exloitatie van Petroleum bronnen in Nederlandsche-Indie). Minyak di Pangkalan Berandan ini, yang ditambah dengan perkebunan, kian menambah Langkat sebagai Negar paling kaya di Sumatra Timur.

<< Kembali / Selanjutnya >>

Saturday, July 20, 2013

Menelusuri Keberadaan Kerajaan Aru (2)

MESJID AZIZI, Menjadi bukti sejarah akan kejayaan Kesultanan Langkat.
Masjid dibangun pada masa pemerintahan Sultan Langkat Ke - 7 Abdul
Aziz Djalil Rachmat Syah (1897-1927)
Meski digempur hebat, menurut Zainal Arifin dalam Buku "Subuh Kelabu Bukit Kubu" (2002) yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Langkat, petinggi Aru yang baru itu tidak turut tewas. Ia melarikan diri ke Kota Rentang Hamparan Perak (Deli Serdang-Sumatra Utara), dan mendirikan Kerajaan baru dengan Rajanya yang bernama Dewa Syahdan (1500-1580). Kerajaan inilah yang akhirnya melahirkan Kerajaan Langkat.


 Lahirnya Kesultanan Langkat

Langkat Berasal dari nama sebuah pohon yang menyerupai pohon langsat. Pohon Langkat memiliki buah yang lebih besar dari buah langsat namun lebih kecil dari buah duku. Rasanya disebut-sebut lebih pahit dan kelat. Pohon ini dulunya banyak dijumpai ditepian sungai Langkat, yakni di hilir Sungai Batang Serangan yang mengaliri kota Tanjung Pura. Hanya saja, pohon itu kini sudah punah.

Selain, yang menarik adalah pengakuan dari para tetua langkat, hingga kini, yang yang menganggap bahwa dirinya adalah keturunan marga Perangin-angin. Utamanya yang berasal dari bahorok maupun tanjung pura. Padahal, jika dilihat dari pandangan orang karo semula Ihwal Kerajaan Aru, tentu ini menjadi membingungkan.

Dimasa Kerajaan Langkat, para keturunan pembesar Aru yang masih berada di Besitang, Aru I kembali membangun reruntuhan kerajaan yang sudah luluh lantak. Kawasan Besitang kemudian menjadi kejuruan yang berada dalam lingkup Kerajaan Langkat. Kejuruan ini memiliki kawasan sampai ke Salahaji, desa di Kecamatan Pematang Jaya  (Kabupaten Langkat). Sedangkan Kerajaan Langkat sendiri meluaskan wilayahnya sampai ke Tamiang (Kabupaten Aceh Tamiang-Aceh), dan Seruai (Deli Serdang)

Besitang kemudian dikenal sangat setia pada Kerajaan Langkat. Ia kerap menjadi palang pintu bagi pihak lain yang ingin melakukan penyerbuan kepada Kerajaan Langkat, seperti serangan dari Gayo dan Alas.

Setelah Dewa Syahdan wafat, Kerajaan Langkat Kemudian dipimpin oleh anaknya, Dewa Sakti, yang memerintah dari tahun 1581-1612. Pada tahun 1612, Dewa Sakti yang bergelar Kejuruan Hitam ini dikabarkan hilang (tewas) dalam penyerangan yang kembali dilakukan oleh Kerajaan Aceh.

Lokasi Kesultanan Langkat

Sejumlah referensi menyebutkan bahwa sesudah Dewa Sakti, Kerajaan Langkat di pimpin oleh anaknya yang bernama Sultan Abdullah (1612-1673). Akan Tetapi, dalam sebuah terombo, tidak ditemukan nama Sultan Abdullah sebagai anak Dewa Sakti. Terombo tersebut menampilkan bahwa anak dari Dewa Sakti adalah T. Tan Djafar dan T.Husin. Dan dari Tuan Husin, generasinya adalah T. Djalaluddin yang disebut juga datuk Leka (Terusan), T. Bandarsjah, T.Oelak, dan T. Gaharu.

Sultan Abdullah yang banyak disebut dalam literatur kemudian wafat dan di makamkan di Buluh Cina Hamparan Perak dengan gelar Marhum Guri. Selanjutnya, Tahta Kerajaan Langkat jatuh pada Anak Sultan Abdullah, yakni Raja Kahar (1673-1750). Di zaman Raja Kahar, Pusat Kerajaan Langkat dipindahkan  dari Kota Rentah Hamparan Perak ke Kota Dalam Secanggang. 

Tak hanya itu, Raja Kahar juga melakukan banyak perubahan, baik dalam manajemen negara maupun kepemimpinan. Perubahan itu, menurut Zainal Arifin, membuat sejumlah kalangan lantas menetapkan bahwa ialah pendiri Kerajaan Langkat pada 17 januari 1750.

Raja Kahar memiliki tiga orang anak, yakni Badiulzaman (1750-1814) yang bergelar Sutan Bendahara, Sutan Husin dan Dewi Tahrul. Setelah Raja Kahar Wafat, Badiulzaman menjadi Raja Kerajaan Langkat dan Sutan Husin menjadi raja di Bahorok. Dimasa Sutan Bendahara, wilayah Kerajaan Langkat Meluas. Saat wafat ia di makamkan di Pungai dan diberi gelar Mahrom Kaca.

Sejumlah tahta Kerajaan Langkat diserahkan kepada anak tertua Badiulzaman, Tuah Hitam, yang memerintah sejak 1815-1823. Oleh Tuah Hitam, Istana Kerajaan Langkat dipindahkan ke Jentera Malai yang tak jauh dari Kota Dalam Secanggang. Sementara, adik Tuah Hitam, Raja Wan Jabar menjadi raja di Selesai dan adik ketiga, Syahban menjadi raja di Pungai. Sedangakan sibungsu, Indra Bongsu, tetap tinggal bersama Tuah Hitam.

Dimasa kepemimpinan Tuah Hitam, serangan terhadap Kerajaan Langkat kini bersal dari Belanda dan Kerajaan Siak Sri Indrapura. Pada awal abad ke-19 serangan bertubi-tubi Kerajaan Siak Sri Indrapura membuat Kerajaan Langkat takluk. Pada 1823, dalam catatan Zainal Arifin, pasukan Tuah Hitam bergabung dengan Sultan Panglima Mengedar Alam dari Kerajaan Deli. Tujuannya untuk merebut kembali Kerajaan Langkat dari Kerajaan Siak Sri Indrapura dan Belanda. Tetapi, dalam perjalanan kembali dari Deli, Tuah Hitam tewas.

<< Kembali / Selanjutnya >>

Friday, July 19, 2013

Foto Tempoe Doeloe

Masjid Aziz, dibangun pada masa pemerintahan Sultan Langkat Ke - 7 Abdul
Aziz Djalil Rachmat Syah (1897-1927)




Tanjung Pura Masa Kerajaan Langkat-Banjir Tahun 1821




Istana Kerajaan Langkat-Banjir Tahun 1921 




Istana Darusalam Kesultanan Langkat



Rakyat Langkat Melayat Raja Pada Saat Sultan Wafat 




Kolam Kerajaan Deli
 



Istana Maimun Medan

Thursday, July 18, 2013

Rumah Tradisional Melayu



Rumah-rumah tradisional Melayu telah diwarisi semenjak beratus tahun yang lalu. Gaya dan bentuk bangunannya dipengaruhi oleh cara hidup, ekonomi, alam persekitaran dan iklim. 

Iklim adalah perkara yang penting yang mempengaruhi bentuk senibina. Negara kita mempunyai hawa yang panas dan hujan yang selalu turun dengan lebat. Rumah-rumah dan bangunan dibina dengan berpanggung atau bertiang. Rumah dibina demikian keranamemberi laluan atau pengedaran udara. 

Rumah yang bertiang dapat mengelak daripada ditenggelami air apabila berlaku banjir. Bentuk bumbung yang curam yang dipanggil "lipat kajang" dapat memudahkan curahan air hujan. Lantai dan dinding rumah yang diperbuat daripada anyaman peluhan adalah untuk memudahkan pengedaran udara dan untuk mengurangkam rasa bahang panas. 
Rumah yang awal yang digunakan oleh Melayu dipanggil "dangau" atau "teratak". Bentuk rumah tradisi ini adalah ringkas. Pada masa dahulu, tiang rumah adalah bulat dan diperbuat daripada anak-anak pokok kayu. seluruh rumah diperbuat daripada kayu dan bumbungnya daripada atap nipah atau rumbia. 

Mendirikan rumah dilakukan dengan gotong royong, dengan terlebih dahulu melihat hari baik, dengan cara ‘ketiko/ketike’- ‘menengok langkah’. Setelah selesai dan ingin dihuni, diadakan kenduri dan tepung tawar. 




Wednesday, July 17, 2013

Wisata Alam Bukit Lawang



Hutan hujan tropis yang asri menjadi daya tarik utama Bukit Lawang. Diminati turis asing karena bisa melihat langsung Orang Utan di habitan aslinya.

Bukit Lawang.
Gemuruh air Sungai Bahorok seolah menyambut wisatawan. Airnya jernih dan deras. Tak heran sungai yang terletak di Taman Nasional Gunung Leuser, Bukit Lawang, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara ini menjadi favorit wisatawan lokal. Dari atas jembatan gantung, yang menghubungkan dua sisi sungai Bahorok, terlihat anak-anak maupun dewasa bersuka ria menceburkan diri di antara bebatuan sungai.
Dari kota Medan, Sungai Bahorok bisa dijangkau dengan kendaraan roda empat selama 3,5 hingga 4 jam perjalanan. Tidak hanya airnya yang jernih dan dingin, di ekowisata ini pengunjung juga dapat menikmati pemandangan hutan hujan tropis terbaik di dunia. Panorama Bukit Lawang menyediakan medan jelajah yang mengasyikkan. Termasuk bagi pengunjung yang ingin menguji adrenalin di Sungai Bahorok.

Rafting atau arung jeram Di Bukit Lawang.
Menggunakan empat buah ban dalam bekas yang diikat dengan tali, wisatawan bisa mencoba rafting atau bermain arung jeram mengikuti aliran sungai yang deras. Modal untuk menikmati aktifitas tube rafting ini hanyalah keberanian. Karena di tempat ini tak ada pelampung sama sekali. Pengunjung yang tak bisa berenang, harus siap-siap terbawa arus.
Lelah arung jeram, pengunjung bisa beralih menikmati wisata gua. Di sini ada tiga gua yang menarik, yakni Gua Kelelawar (Bat Cave), Gua Wallet (Swallow Cave) dan Gua Kapal (Ship Cave). Dari tempat penginapan ke Bat Cave misalnya, wisatawan harus berjalan sekitar 2 km. Gua kalong punya kedalaman 300 meter. Untuk masuk ke dalam, harus didampingi guide. Jangan lupa membawa senter, karena gua ini sangat gelap. Seperti namanya, gua ini dipenuhi kelelawar. Di dalam gua kita dapat mendengar nyanyian kelelawar, suara tetesan air, dan yang pasti bau khas makhluk malam itu. Dengan kondisi jalan berbatu, gelap dan licin, perlu waktu sekitar satu jam untuk pulang-pergi.

Bungalow atau penginapan di tengah hutan tak jauh dari Sungai Bahorok.
Di Bukit Lawang terdapat banyak bungalow atau penginapan. Bungalow- bungalow yang asri itu terletak di tengah hutan, tak jauh dari Sungai Bahorok. Kala sore menjelang, pengunjung yang tidak menginap di bungalow, memilih berbelanja oleholeh. Banyak galery art di sepanjang tepi Sungai Bahorok. Mereka menjual aneka kaos bergambar karikatur lucu, termasuk gambar Orang Utan Wisatawan asing paling senang membeli patung kayu bermotif Orang Utan. Karena itu, patung ini menjadi primadona. Selain membeli, di galeri-galeri itu wisatawan juga bisa mengikuti kursus singkat melukis atau memahat, seni yang dikuasai warga Bukit Lawang sejak dulu.
Berkunjung ke Bukit Lawang lebih dari sekadar bermain air, masuk gua atau membeli buah tangan. Tujuan utama para pelancong umumnya ingin menyaksikan langsung kehidupan Orang Utan. Kendati pusat rehabilitasi Orang Utan sekarang telah ditutup, pengunjung masih bisa memberi makan pada hewan berbulu lebat itu. Jadwal tetap memberi makan satwa primata langka itu pada pukul 08.00 pagi dan 16.00 sore waktu setempat. Untuk menyaksikan langsung proses tersebut, wisatawan rata-rata menginap satu hingga tiga hari di Bukit Lawang. Pengunjung perlu menginap karena tak bisa seenaknya berangkat sendiri ke lokasi feeding. Mereka harus ditemani seorang pemandu agar tak kesasar.
Agar bisa bertemu hewan yang hobi menggelantung di dahan tersebut, pengunjung harus berjalan kaki sekitar setengah jam. Sambil menyusuri hulu sungai, pengunjung dapat menikmati pemandangan hutan hujan tropis yang lebat, kicau burung yang bersahutan dan bunyi ranting patah terinjak kaki pengunjung. Usai jalan kaki, perjalanan dilanjutkan dengan menyeberang sungai selebar 10 meter, menggunakan perahu kayu yang diikat tali baja melintang di atas badan sungai. Penduduk setempat menyebut perahu berkapasitas lima orang itu getek. Di seberang sungai, wisatawan disambut gapura pintu masuk Taman Nasional Gunung Leuser.

Dua anak orang utan Sumatra (pongo abelii) berada Lawang, Kabupaten Langkat, Sumut, Minggu (29/4).
Taman Nasional Gunung Leuser termasuk salah satu kawasan pelestarian alam dan warisan dunia. Ada banyak jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya di hutan ini. Gajah Sumatera atau Harimau Sumatera katanya masih terpelihara di hutan lebat seluas 1.094.692 hektar ini. Kendati kaya ekosistem, di dunia, Taman Nasional Gunung Leuser lebih dikenal sebagai Pusat Rehabilitasi Orang Utan. Sejarah ini terukir sejak 1973, ketika lembaga swadaya masyarakat World Wild Fund (WWF) dan Frankfurd Zoological Society mendirikan Pusat Rehabilitasi Orang Utan di Bukit Lawang. Tujuannya, untuk melestarikan orang utan yang semakin berkurang akibat perburuan, perdagangan, deforestasi dan perluasan lahan perkebunan sawit ataupun karet.
Belakangan proses rehabilitasi tak lagi jalan. Selain akibat pembalakan liar (illegal loging), juga karena banjir bandang yang menerjang Bukit Lawang pada 2 November 2003. Kini pemerintah bersama LSM perlahanlahan membangun kembali hutan Gunung Leuser sebagai habitat terbaik primata besar bernama Latin Pongo Abelii ini. Untuk mencapai tempat pemberian makan Orang Utan, wisatawan harus menempuh perjalanan tracking cukup berat dari pintu masuk Taman Nasional Gunung Leuser. Tapi, walaupun sudah berkeringat karena menyusuri jalanan menanjak sekitar 500 meter, rasa lelah akan sirna seketika begitu melihat sosok makhluk berwarna oranye kecoklatan itu bergelantungan di pepohonan.
Di lokasi feeding time, pawang yang bertugas memberi makan berusaha menarik perhatian Orang Utan dengan memukul-mukul papan menggunakan sebilah kayu. Orang Utan, yang memiliki tinggi sekitar 1,25 hingga 1,5 meter, akan muncul satu persatu. Dengan hati-hati, primata yang sudah hampir punah itu mulai menghampiri pawang. Sang pawang menenteng ember besar berisi susu serta beberapa sisir pisang. Tak perlu menunggu komando, primata besar itu langsung mengambil satu sisir pisang dan kembali lenyap di balik rimbun batang bambu.
Pengunjung tak boleh terlalu dekat. Mereka harus menjaga jarak minimal 7 hingga 10 meter dari Orang Utan. Tujuannya, untuk mencegah penularan penyakit dan melindungi pengunjung dari kemungkinan serangan agresif kera besar itu.

Sumber : http://www.prioritasnews.com